Minggu, 22 Desember 2013

Coretan Pertama Sebagai Doa Untuk Bapak-Ibu

Essay Beasiswa DataPrint 
DataPrint


Kecerdasan Jamak (IQ, EQ dan SQ) Pondasi Pendidikan
Oleh : Inas Sausan
Setiap anak yang terlahir unik dengan caranya dan tujuan pokok pendidikan  untuk mendidik mereka dengan segala kekurangan dan potensi sehingga dapat berkembang untuk kebaikan secara lebih maksimal. Kecerdasan yang menjadi modal dasar anak kadang dianggap sebagai “kekurangan” bagi sebagian tenaga pendidik karena kekurangpahaman adanya berbagai jenis kecerdasan. Teori kecerdasan semakin humanis dan manusiawi searah perkembangan jaman.
Pemahaman masyarakat dulu mengenai tingkat kecerdasan seseorang hanya diperhitungkan dari tes angka berupa tes IQ, dimana angka-angka itu menunjukkan seberapa cerdas anak. Bahkan anggapan ini masih berlangsung pada sebagian orang tua masa kini yang belum mengenal ada kecerdasan selain IQ. Inteligent Quotient (IQ) merupakan kecerdasan dihitung berdasarkan perbandingan antara tingkat kemampuan mental (mental age) dengan tingkat usia (chronological age), merentang mulai dari kemampuan dengan kategori idiot sampai dengan genius (Weschler dalam Nana Syaodih, 2005). Orang akan beranggapan anak yang memiliki IQ tinggi memiliki daya pikir yang lebih baik dibandingkan anak dengan IQ rendah. Dalam suatu kasus mengenai pemilihan calon delegasi dalam perlombaan debat pendidikan akan dipilih teman yang memilki tingkat IQ tinggi sebagai background bahwa dia memilki daya pikir dan kreatif opini yang tinggi. Hal ini memang tidak sepenuhnya salah namun tidak sepenuhnya benar karena dalam bidang pendidikan kecerdasan seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh tingkat IQ semata. Setiap anak memilki kecerdasan jamak seperti yang dikemukakan oleh Howard Gardner pada 1983 di Harvard University mengenai teori kecerdasan multiple intelligences (Munif dan Alamsyah,2012:74).
Teori kecerdasan berkembang secara perlahan meninggalkan teori berbasis angka seperti yang dipublikasikan oleh Daniel Goleman yaitu Emotional Quotient (EQ). Kecerdaasn ini dianggap sebagai faktor penting yang dapat mempengaruhi terhadap prestasi seseorang. Kecerdasan emosional ini merujuk pada kemampuan anak dalam mengendalikan emosi, memotivasi diri dan mengenal perasaaan diri dan orang lain. Dalam kehidupan nyata setiap anak akan berinteraksi antarsesama di kegiatan pembelajaran, interaksi ini membutuhkan kemampuan EQ sehingga tercipta suasana pembelajaran yang baik. Kecerdasan emosi ini berpengaruh pada pembentukan pribadi setiap anak. Contoh kasus bunuh diri siswi SMKN  peraih nilai tertinggi ujian nasional mata pelajaran Bahasa Indonesia di Muaro Jambi karena shock menerima surat kelulusan yang berisi informasi untuk mengulang tes matematik, hal ini membuktikan bahwa IQ tinggi saja tidaklah cukup harus diimbangi oleh kecerdasan emosi sehingga terbentuk manusia yang unggul dalam pendidikan.
Pada tahun 2000, rumusan teori kecerdasan terbaru disampaikan oleh sepasang suami istri, Ian Marshall dan Danah Zohar, yaitu Spritual Quotient (SQ) atau kecerdasan spiritual. Sifat kecerdasan yang mencari koneksi antar kebutuhan untuk belajar dengan kemampuan dan menciptakan kesadaran akan kehidupan setelah kematian (Munif dan Alamsyah,2012). Kecerdasan spritual membangun kesadaran akan fungsi belajar bagi anak dan tujuan apa yang seharusnya dicapai dengan pendidikan yang dijalankan dari dulu. Ketika seseorang telah sampai tahap memahami kecerdasan spiritual maka pendidikan yang dijalankan akan membawanya ke arah pribadi yang baik dengan membentuk jiwa yang mengabdikan pada penyelesaian problem pendidikan. Contoh kasus Theodore Kaczynski, lulusan Universitas Harvard, sebagai anak paling genius di bidang matematika dan sains berakhir di penjara karena masalah teror bom. Dia tidak dapat menyeimbangkan kecerdasan emosinya dan kecerdasan intelegensi dalam pembentukan dirinya sehingga kepintarannya tidak membawa kearah kedamaian.
Penerapan kecerdasan jamak yakni IQ, EQ dan SQ dalam dunia pendidikan sangat berkaitan dan saling dukung satu sama lain sehingga terbentuk produk pendidikan yang handal.

Chatib,Munif dan Alamsyah Said.2012.Sekolah Anak-Anak Juara.Bandung:P.T Mizan Pustaka
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.

www.beasiswadataprint.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar