DataPrint
Kecerdasan Jamak (IQ, EQ dan SQ)
Pondasi Pendidikan
Oleh
: Inas Sausan
Setiap
anak yang terlahir unik dengan caranya dan tujuan pokok pendidikan untuk mendidik mereka dengan segala
kekurangan dan potensi sehingga dapat berkembang untuk kebaikan secara lebih
maksimal. Kecerdasan yang menjadi modal dasar anak kadang dianggap sebagai
“kekurangan” bagi sebagian tenaga pendidik karena kekurangpahaman adanya
berbagai jenis kecerdasan. Teori kecerdasan semakin humanis dan manusiawi searah
perkembangan jaman.
Pemahaman
masyarakat dulu mengenai tingkat kecerdasan seseorang hanya diperhitungkan dari
tes angka berupa tes IQ, dimana angka-angka itu menunjukkan seberapa cerdas
anak. Bahkan anggapan ini masih berlangsung pada sebagian orang tua masa kini
yang belum mengenal ada kecerdasan selain IQ. Inteligent Quotient (IQ)
merupakan kecerdasan dihitung berdasarkan perbandingan antara
tingkat kemampuan mental (mental age) dengan
tingkat usia (chronological age), merentang mulai dari kemampuan dengan
kategori idiot sampai dengan genius (Weschler dalam Nana Syaodih, 2005). Orang
akan beranggapan anak yang memiliki IQ tinggi memiliki daya pikir yang lebih
baik dibandingkan anak dengan IQ rendah. Dalam suatu kasus mengenai pemilihan
calon delegasi dalam perlombaan debat pendidikan akan dipilih teman yang
memilki tingkat IQ tinggi sebagai background bahwa dia memilki daya pikir dan
kreatif opini yang tinggi. Hal ini memang tidak sepenuhnya salah namun tidak
sepenuhnya benar karena dalam bidang pendidikan kecerdasan seseorang tidak hanya
dipengaruhi oleh tingkat IQ semata. Setiap anak memilki kecerdasan jamak
seperti yang dikemukakan oleh Howard Gardner pada 1983 di Harvard University
mengenai teori kecerdasan multiple intelligences (Munif dan Alamsyah,2012:74).
Teori
kecerdasan berkembang secara perlahan meninggalkan teori berbasis angka seperti
yang dipublikasikan oleh Daniel Goleman yaitu Emotional Quotient (EQ). Kecerdaasn ini dianggap sebagai faktor penting yang dapat
mempengaruhi terhadap prestasi seseorang. Kecerdasan emosional ini merujuk pada
kemampuan anak dalam mengendalikan emosi, memotivasi diri dan mengenal
perasaaan diri dan orang lain. Dalam kehidupan nyata setiap anak akan
berinteraksi antarsesama di kegiatan pembelajaran, interaksi ini membutuhkan
kemampuan EQ sehingga tercipta suasana pembelajaran yang baik. Kecerdasan emosi
ini berpengaruh pada pembentukan pribadi setiap anak. Contoh kasus bunuh diri
siswi SMKN peraih nilai tertinggi ujian
nasional mata pelajaran Bahasa Indonesia di Muaro Jambi karena shock menerima surat kelulusan yang
berisi informasi untuk mengulang tes matematik, hal ini membuktikan bahwa IQ
tinggi saja tidaklah cukup harus diimbangi oleh kecerdasan emosi sehingga
terbentuk manusia yang unggul dalam pendidikan.
Pada
tahun 2000, rumusan teori kecerdasan terbaru disampaikan oleh sepasang suami
istri, Ian Marshall dan Danah Zohar, yaitu Spritual Quotient (SQ) atau
kecerdasan spiritual. Sifat kecerdasan yang mencari koneksi antar kebutuhan
untuk belajar dengan kemampuan dan menciptakan kesadaran akan kehidupan setelah
kematian (Munif dan Alamsyah,2012). Kecerdasan spritual membangun kesadaran
akan fungsi belajar bagi anak dan tujuan apa yang seharusnya dicapai dengan
pendidikan yang dijalankan dari dulu. Ketika seseorang telah sampai tahap memahami
kecerdasan spiritual maka pendidikan yang dijalankan akan membawanya ke arah
pribadi yang baik dengan membentuk jiwa yang mengabdikan pada penyelesaian
problem pendidikan. Contoh kasus Theodore Kaczynski, lulusan Universitas
Harvard, sebagai anak paling genius di bidang matematika dan sains berakhir di
penjara karena masalah teror bom. Dia tidak dapat menyeimbangkan kecerdasan
emosinya dan kecerdasan intelegensi dalam pembentukan dirinya sehingga
kepintarannya tidak membawa kearah kedamaian.
Penerapan
kecerdasan jamak yakni IQ, EQ dan SQ dalam dunia pendidikan sangat berkaitan dan
saling dukung satu sama lain sehingga terbentuk produk pendidikan yang handal.
Chatib,Munif dan Alamsyah Said.2012.Sekolah Anak-Anak Juara.Bandung:P.T
Mizan Pustaka
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung
: P.T. Remaja Rosdakarya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar